}(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Rabu, 01 Februari 2012

Konspirasi Barat Lemahkan Kekuatan Islam di Belakang Perseteruan Indonesia-Malaysia


Perseteruan Indonesia-Malaysia memanas kembali. Kasus saling tangkap antara Indonesia-Malaysia disebabkan pelanggaran batas laut oleh nelayan Malaysia telah menjadi letupan-letupan yang ke sekian kalinya menggetarkan tali hubungan antara dua bangsa yang mengaku serumpun Melayu ini.
Dimulai dengan semangat menentang Imperialisme dan Kolonialisme yang luar biasa dari bapak pendiri bangsa (founding father) kita, Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI itu marah besar karena Malaysia bersedia bergabung dalam persemakmuran di bawah kendali kerajaan Inggris Raya. Kemarahan bapak Proklamator kita itu diwujudkannya dalam semangat “ganyang Malaysia” hingga betul-betul terjadi pertempuran-pertempuran antara kita dengan Malaysia di sekitar Serawak dan Sabah pada waktu itu.

Kemudian keadaan hubungan kedua negara berubah sangat membaik ketika Indonesia di bawah rezim Soeharto, Presiden kedua RI yang bersahabat kental dengan Perdana Menteri Malaysia di masa itu, Mahathir Mohammad. Organisasi persatuan negara-negara di Asia Tenggara, Asean, terbentuk di mana hubungan politik, ekonomi, budaya dan keamanan terjalin mesra antara Indonesia dengan Malaysia, serupa mesranya hubungan pribadi antara Soeharto dengan Mahatir.
Seketika itu kekuatan Barat ketakutan dengan eratnya persatuan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia secara luas, serta kebangkitan ekonomi negara-negara di wilayah ini. Mereka mengambil langkah yang tepat dengan menganulir kekuasaan Soeharto, karena seiring lengsernya Soeharto, Asean, Persatuan bangsa-bangsa Asia-Afrika, bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) seperti tiba-tiba ikut padam, dan tumpul giginya.
Negara-negara Asean kembali ke “habitatnya” masing-masing, termasuk Malaysia yang kembali ke pangkuan Ratu Elizabeth yang cemburu dengan kemesraan Mahatir dengan Soeharto.  Begitu juga dengan kekuatan persatuan negara-negara Islam ikut-ikutan melemah, terbukti pembelaan nasib bangsa Palestina melemah di dunia Islam sendiri. Bahkan negara-negara Arab duduk manis dan mengelus-elus senjatanya tanpa mau mempergunakannya lagi untuk membela Palestina.
Ketika para penggerak Reformasi – barisan sakit hati selama rezim Soeharto – berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru – mungkin dengan bantuan Barat – semua borok lama diungkap kembali, termasuk buruknya perlakuan Soeharto terhadap mantan Presiden Pertama RI, Soekarno. Di sinilah kemudian sepak-terjang Soekarno dipuji-puji, termasuk sikap tegasnya menentang Imperialisme dan Kolonialisme yang salah satu bentuknya adalah penentangan dengan keras segala bentuk dukungan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme seperti masuknya Malaysia ke dalam Commonwealth atau Negara-negara Persemakmuran bekas jajahan Inggris.
Luka lama diungkit-ungkit kembali. Kepedihan bangsa Malaysia yang dirasakan kembali terhadap sikap permusuhan Soekarno ini kemudian semakin memperburuk hubungan kedua negara bertetangga dari waktu ke waktu selama reformasi ini.

Nasionalisme versus persatuan Islam dalam kekhalifahan
Sejarah mencatat bahwa penjajah, kaum imperialis dan kolonialis, yang terdiri atas bangsa-bangsa di benua Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda menggunakan berbagai cara untuk menjalankan misinya, Gospel, Gold dan Glory di daerah tanah jajahan.
Semangat untuk menyebarkan ajaran agama Kristen – Gospel artinya Injil, mencari harta kekayaan untuk memakmurkan negeri mereka sendiri (Gold) dan kemahsyuran sebagai bangsa yang besar dan hebat karena mampu menguasai dunia (Glory), membuat kaum penjajah menerapkan suatu cara yang terkenal sangat licik, yaitu devide at impera‘pecah-belah dan jajahlah’.
Moto “pecah-belah dan jajahlah” tersebut bermakna untuk menguasai suatu bangsa, maka harus dilemahkan kekuatannya yang terletak pada persatuan dan kesatuan bangsa itu. Apabila suatu bangsa sudah tercerai-berai, maka penjajah akan semakin mudah untuk menguasainya. Seperti seekor serigala yang bisa dengan mudah untuk menangkap domba yang terpisah dari kelompoknya.
Cara licik inilah yang dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan di Eropa yang semakin terdesak oleh ekspansi kekuasaan kekhalifahan Islam (Daulah Islamiyah) di Barat, baik di masa Umayah, Abasiyah dan terakhir Ustmaniyah. Selain kekuatan Islam sudah menguasai sebagian besar Eropa, kerajaan-kerajaan kecil di wilayah koloni jajahan seperti Nusantara sebagian besar juga telah mengakui kekuasaan khalifah Ustmaniyah (Ottoman) di Turki. Raja-raja Nusantara kebanyakan menganut Islam sebagai agama kerajaan, mengganti jabatan raja menjadi Sultan, dan yang paling membuat dongkol kaum imperialis dan kolonial adalah penentangan yang sangat nyata dan berani dari para Sultan terhadap mereka.
Setelah mengalami banyak kekalahan dan kepayahan yang sangat dalam peperangan melawan Sultan-sultan dan raja-raja di Nusantara, penjajah, dalam hal ini Belanda khususnya yang menjajah di wilayah Indonesia sekarang, mencoba cara licik devide at impera ini ke sektor yang lebih luas.
Dulu Belanda menggunakan taktik pecah-belah hanya di lingkup kecil di dalam suatu kerajaan, misalnya dengan mempertentangkan antara dua pewaris tahta kerajaan. Tetapi demi pencapaian tujuan yang lebih besar, yaitu kekuasaan dinasti-dinasti di Eropa melawan gempuran kekhalifahan Islam, penjajah rela mengorbankan resiko kehilangan tanah jajahan dengan menanamkan semangat nasionalisme pada bangsa jajahan. Semangat nasionalisme inilah yang dipergunakan oleh penjajah Eropa untuk meruntuhkan rasa kedaerahan – baca: pemandulan kekuasaan sultan dan raja yang telah takluk kepada kekhalifahan Islam – dan menghidupkan rasa kebangsaan yang satu. Sebagai bangsa yang bersatu, maka bentuk politik yang dipilih kemudian adalah bentuk negara (state) yang tunduk kepada hukum demokrasi, bukan monarki yang tunduk kepada kekuasaan individu.
Jangan Anda kira putra-putra bangsa di masa lampau, seperti para pendiri Budi Utomo mendapatkan pendidikan Eropa dengan berusah-susah. Tidak, sama sekali tidak. Para Bapak Bangsa itu dibayar untuk sekolah dan belajar semangat nasionalisme dan membangkitkan rasa kebangsaannya. Untuk apa? Untuk mencapai tujuan rahasia dari bangsa Eropa, yakni keruntuhan kekhalifahan Islam, beserta jaringan-jaringannya yaitu Sultan-sultan dan raja-raja di Nusantara, termasuk sultan-sultan yang memerintah di semenanjung Malaya atau Malaysia sekarang ini. Sultan-sultan dan raja-raja itu sekarang ini hanya menjadi simbol budaya tanpa memiliki kekuatan apa pun untuk kembali mengangkat nama harum Daulah Islamiyah.
Sangat bodohlah Belanda bersedia mendirikan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau sekolah kedokteran untuk bangsa pribumi dan menyekolahkan anak bangsa jajahan hanya untuk kemudian kehilangan daerah jajahannya.
Dari mana Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo mendapatkan pengetahuan tentang nasionalisme kalau bukan dari orang Belanda sendiri? Politik balas budi atau politik etis yang diterapkan Belanda di daerah jajahannya hampir bisa dipastikan mengandung rencana terselubung sesuai dengan tujuan ini.

Hubungan Khilafah Ustmaniyah (Ottoman) di Turki dengan Sultan-sultan Melayu dan raja-raja Islam di Nusantara
Pengaruh Khalifah terhadap kehidupan politik bangsa Melayu sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya Khilafah (Daulah Islamiyah).  Kejayaan umat Islam mengalahkan Kerajaan Parsi (Iran) dan menduduki sebahagian besar wilayah Rom Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestina, di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khattab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai kuasa besar dunia sejak abad ke-7 M. Ketika Khilafah diperintah Bani Umayyah (660-749 M), pemerintah di Nusantara –yang masih beragama Hindu sekalipun – mengakui kebesaran Khilafah.
Pengakuan terhadap kebesaran Khalifah diberikan oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Demikian juga dengan pengakuan Aceh kepada kekuasaan Khalifah Sultan Sulayman Al-Qanuni dengan permintaan bantuan tentara untuk melawan kekuatan Portugis.
Sulayman Al-Qanuni wafat pada tahun 974 H/1566 M tetapi permintaan Aceh mendapat sokongan Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), dengan mengeluarkan perintah kesultanan untuk menghantar sepasukan besar tentara ke Aceh. Sekitar September 975 H/1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah pakar senjata, tentera dan meriam.  Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama mana yang diperlukan oleh Sultan.  Namun dalam perjalanan, hanya sebagian armada besar ini yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H/1571 M.
Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk pakar senjata, penembak, dan pakar teknologi.  Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M.
Banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelaran sultan dari pemerintah tertentu di Timur Tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, pemimpin Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahkan gelaran sultan oleh Syarif Mekah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirim olehnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci.  Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan pemerintah Turki Ustmani dan Haramain.  Begitu juga Palembang (Sumatera) dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Mekah. Pada ketika itu, para penguasa Mekah merupakan sebagian dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
Khilafah Turki Uthmaniyah, seperti disebutkan oleh orientalis, Hurgronje (1994, halaman 1631), bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19.  Para kedutaan Turki berjanji kepada umat Islam yang ada di Batavia untuk memperjuangkan pembebasan hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropah.  Selain itu, Turki juga akan berusaha supaya seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda bebas dari penindasan Belanda.
Itulah sekilas sepak-terjang kaum imperialis dan kolonialis di masa lampau dalam rangka meruntuhkan kekuatan Daulah Islam di dunia, termasuk di Nusantara atau Indonesia saat ini.

Indonesia diincar untuk melemahkan kekuatan Islam terbesar di Asia
Kekuatan imperialis modern di dunia sekarang ini adalah Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa. AS yang nota bene adalah bekas jajahan Inggris – yang bangsanya juga keturunan dari orang Inggris yang bermigrasi mencari tanah baru – dan sekarang menjadi sahabat kentalnya, bersama-sama sedang berusaha menguasai Indonesia, sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yakni 182.570.000 orang.
Secara kasat mata imperialisme dan kolonialisme memang sudah tidak ada lagi, namun sudah mengubah wujudnya ke dalam bentuk yang lebih modern, yakni imperialisme ekonomi, politik dan budaya. Pembentukan kerjasama ekonomi berupa negara peminjam dan pendonor adalah bentuk penjajahan ekonomi, dan juga tanpa bisa dihindari dampak politik dan budayanya, seperti Indonesia dengan Amerika Serikat sekarang ini. Penyatuan dalam persekutuan negara-negara persemakmuran, contohnya Malaysia di bawah kerajaan Britania Raya adalah bentuk lain penjajahan secara politik dan ekonomi.
Apakah relevansi uraian di atas terhadap hubungan Indonesia dengan Malaysia yang kacau-balau saat ini?
AS yang hanya bisa menguasai Indonesia secara ekonomi dan politik (de facto), menyerahkan kepada Inggris untuk berusaha menguasai Indonesia secara de jure (hukum). Caranya adalah dengan menggunakan Malaysia, salah satu anggota persemakmurannya, untuk menjadi “alasan” penguasaan Inggris terhadap Indonesia.
Apabila Indonesia berhasil terpancing kemarahannya – dengan dasar harga diri sebagai bangsa yang berdaulat – menghadapi tingkah-polah tidak kenal adab dan sopan-santun dari negara jiran yang bernama Malaysia itu, dan memutuskan untuk angkat senjata (perang) melawan Malaysia, maka bergeraklah kekuatan Imperialisme modern tadi (AS, Inggris dan kawan-kawan) menuju kepulauan Nusantara (Indonesia) dan melakukan intervensi yang meluas secara de facto dan de jure.
Dengan alasan membantu anggotanya, Inggris dan anggota common wealth lainnya akan berperang melawan Indonesia, dan akan menguasai wilayah-wilayah Indonesia. AS akan berperan sebagai penengah sekaligus pelengah (penipu) yang akan memberi peluang kepada Inggris untuk menguasai Indonesia dan menjadikannya anggota persemakmuran di bawah kekuasannya.
Anda pasti masih bertanya-tanya kenapa begitu getolnya kaum imperialis modern tersebut ingin menguasai Indonesia. Jawabannya adalah mereka tidak ingin umat Muslim dengan jumlah terbanyak di dunia seperti di Indonesia ini menjadi tidak bisa diatur karena berdaulat penuh seperti sekarang ini, terutama dalam urusan politik luar negeri. Contohnya, hingga detik ini kita masih memberikan dukungan penuh atas kemerdekaan rakyat Palestina terhadap penjajahan bangsa Israel.
Kalau kita menjadi anggota persemakmuran, karena tiba-tiba saja PBB memutuskan bahwa Indonesia sudah tidak mampu berdiri sendiri karena kalah perang melawan Malaysia bersama Inggris dan kawan-kawannya, maka secara politik suara kita sama dengan sang “juragan” yaitu Inggris untuk mendukung Israel menguasai Palestina. Posisi Indonesia ini pasti akan berpengaruh besar pada sikap politik negara-negara dengan populasi Islam yang lebih kecil, anggota-anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam), dan berbagai organisasi negara-negara Islam lainnya terhadap kemerdekaan Palestina. Wallahua’lam.

Ceadit : Abdullah Ibnu Ahmad

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More